7 Nasihat Rasulullah untuk Bekal Hidup di Akhir Zaman

7 Nasihat Rasulallah untuk Bekal Hidup di Akhir Zaman
Kata “nasihat” berasal dari bahasa arab, dari kata kerja “Nashaha” yang berarti “khalasha”, yaitu murni serta bersih dari segala kotoran, juga bisa berarti “Khaatha”, iaitu menjahit.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah menukil ucapan Imam Khaththabi rahimahullah, “Nasihat itu adalah suatu kata untuk menerangkan satu pengertian, iaitu keinginan kebaikan bagi yang dinasihati.”
Imam Khaththabi rahimahullah menjelaskan erti kata “nashaha” sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi rahimahullah, “Dikatakan bahawa “nashaha” diambil dari “nashahtu al-‘asla”, apabila saya menyaring madu agar terpisah dari lilinnya sehingga menjadi murni dan bersih, mereka mengumpamakan pemilihan kata-kata agar tidak berbuat kesalahan dengan penyaringan madu agar tidak bercampur dengan lilinnya.
Dan dikatakan kata “nasihat” berasal dari “nashaha ar-rajulu tsaubahu” (orang itu menjahit pakaiannya), apabila dia menjahitnya, maka mereka mengumpamakan perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya dengan jalan memperbaiki pakaiannya yang robek.”
Erti ucapan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam “Dien itu adalah nasihat” adalah bahawa nasihat itu merupakan tiang serta tonggak dari dien ini sebagaimana sabda beliau, “Haji itu adalah Arafah,”
maksudnya wuquf di Arafah merupakan tiang serta rukun dari ibadah haji.
Al-Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwazi rahimahullah (wafat tahun 394H) berkata dalam kitabnya Ta’dzimu Qadri As-Shalat mengenai arti nasehat kepada Allah.
“Sebagian ahli ilmu berkata: Penjelasan erti nasihat secara lengkap adalah perhatian hati terhadap yang dinasihati siapa pun dia, dan nasihat tersebut hukumnya ada dua, yang pertama wajib dan yang kedua sunnah. Maka nasihat yang wajib kepada Allah, yaitu perhatian yang sangat dari penasihat dengan cara mengikuti apa-apa yang Allah cintai, berupa pelaksanaan kewajiban dan dengan menjauhi apa-apa yang Allah haramkan. Sedangkan nasihat yang sunnah adalah dengan mendahulukan perbuatan yang dicintai Allah dari pada perbuatan yang dicintai oleh dirinya sendiri, yang demikian itu dalam dua perkara yang berbenturan. Yang pertama untuk kepentingan dirinya sendiri dan yang lain untuk Rabbnya, maka dia memulai mengerjakan sesuatu untuk Rabbnya terlebih dahulu dan mengakhirkan apa-apa yang untuk dirinya sendiri, maka ini adalah penjelasan nasehat kepada Allah secara global, baik yang wajib maupun yang sunnah. Adapun perinciannya akan kami sebutkan sebahagiannya agar boleh dipahami dengan lebih jelas. Maka nasihat yang wajib kepada Allah adalah menjauhi laranganNya, dan melaksanakan perintahNya dengan seluruh anggota badannya apa-apa yang mampu ia lakukan, apabila ia tidak mampu melaksanakan kewajibannya kerana suatu alasan tertentu seperti sakit atau terhalang dengan sesuatu atau sebab-sebab lainnya, maka ia tetap berniat dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan kewajiban tersebut apabila penghalang tadi telah hilang.
1. Cintai Orang Miskin Dan Mendekatilah Kepadanya.
2. Pandanglah Orang Yang Dibawahmu Dan Jangan Memandang Orang Yang Diatasmu.
3. Sambunglah Tali Silaturahim Walau Orang Itu Berpaling Darimu.
4. Jangan Meminta Sesuatu Kepada Siapapun.
5. Katakanlah Kebenaran Walaupun Pahit.
6. Jangan Menghadapi Celaan Pencela Dalam Membela Agama Allah.
7. Dan PerbanyakKAN Bacaan LAA WAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAH.

0 comment... add one now